REDAKSITIMOR.COM, AMBON, Pemerintah Kota Ambon menunjukkan keseriusan dalam mengadopsi pembelajaran digital melalui refleksi program “Sekolah Enuma” yang telah dilaksanakan di sejumlah sekolah dasar sejak tahun 2022. Kegiatan refleksi ini berlangsung di Hotel Amaris Ambon, Selasa (24/6/2025).
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ambon, Drs. F.F. Tasso, M.Si. usai mengikuti kegiatan pertemuan Refleksi pembelajaran berbasis digital sekolah Enuma .
Tasso menekankan bahwa keberhasilan beberapa sekolah dalam menyelesaikan program Enuma merupakan sinyal positif bahwa Kota Ambon siap melangkah lebih jauh dalam pendidikan digital.
“Refleksi hari ini penting untuk menilai sejauh mana proses pendidikan digital Enuma berjalan dan apa saja yang perlu diperbaiki ke depan. Anak-anak kita menunjukkan progres signifikan,” ujar Tasso. “Kita sudah selangkah lebih maju dalam merespons kebijakan digital learning nasional,” tambahnya.
Program Enuma, menurutnya, menjadi pijakan awal untuk pelaksanaan mata pelajaran pilihan berbasis digital di tahun ajaran 2025–2026. Pemerintah tengah menyiapkan SDM dan infrastruktur, terutama ketersediaan gadget dan sistem pendukung di sekolah-sekolah yang akan dijadikan percontohan.
Tasso juga memberikan apresiasi tinggi terhadap Yayasan Arika Mahina yang telah menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan program ini.
“Saya bangga karena SDM lokal kita, Arika Mahina, mampu membawa akses pendidikan digital hingga ke Singapura dan kembali membawanya untuk kemajuan anak-anak Ambon,” katanya.
Meski belum ditentukan sekolah mana saja yang akan menjadi pelaksana Mapel di tahun ajaran 2025/2026 Pemkot Ambon memastikan bahwa pendidik akan dilatih lebih dahulu sebelum perangkat digital didistribusikan.
Sementara itu, Direktur Yayasan Arika Mahina, Ruth Rosani Saiya, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari evaluasi tahunan atas tiga tahun implementasi program pembelajaran berbasis digital Enuma di Ambon.
“Kita tidak bisa lagi menghindari digitalisasi. Program ini hadir sebagai jawaban terhadap kebutuhan zaman, terlebih sejak masa pandemi COVID-19 yang mendorong orang tua membekali anak dengan gadget untuk pembelajaran jarak jauh,” jelas Saiya.
Menariknya, aplikasi Enuma tidak terkoneksi dengan internet saat digunakan anak. Internet hanya dibutuhkan oleh guru untuk sinkronisasi data. Hal ini membuat anak-anak lebih fokus dalam belajar tanpa gangguan game atau tontonan online.
Belajar Tanpa Internet, Hadiah Jadi Penyemangat
Program ini juga memiliki fitur “Ruang Pustaka” yang memungkinkan siswa membaca cerita, mendengarkan lagu daerah dan kebangsaan, serta menikmati konten edukatif lainnya—semuanya tanpa internet. Namun, seperti pembelajaran pada umumnya, kejenuhan tetap menjadi tantangan.
“Kalau anak-anak mulai bosan, kami berikan reward. Ada yang kasih coklat, wafer, bahkan tumbler. Itu penyemangat mereka,” ungkap Saiya.
Hingga kini, tercatat sudah delapan SD yang tuntas, termasuk SD Silale dan SD 70 Ambon. Meski demikian, Arika Mahina mengakui keterbatasan jangkauan dan terus membuka diri untuk kolaborasi baru di masa depan.
Tekanan Literasi, Tantangan yang Diatasi Secara Kreatif
Salah satu kekuatan aplikasi Enuma adalah pendekatan pembelajaran yang merangsang anak untuk berpikir, bukan sekadar menghafal. Misalnya, anak diminta memilih warna hijau tanpa diberi label, atau membedakan ukuran benda melalui eksplorasi visual.
“Literasi anak-anak kita masih menjadi tantangan. Mereka bisa membaca, tapi belum tentu paham. Di sinilah aplikasi Enuma berperan—melatih mereka berpikir dan memahami konteks,” tambah Saiya.
Harapan untuk Pemerintah dan Pendidikan Inklusif
Kedepannya, Yayasan Arika Mahina berharap program seperti Enuma atau bentuk digital learning lain dari pemerintah dapat menjangkau lebih banyak anak, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu atau berkebutuhan khusus.
“Setiap anak berhak merasakan manfaat dari kebijakan pendidikan. Bukan hanya yang cerdas, tapi juga yang butuh perhatian lebih. Pendidikan harus inklusif,” pungkas Saiya. (*






