Makan Bergizi Gratis di Ambon Dikawal Ketat, Kebersihan dan Kualitas Jadi Prioritas. Ini Kata SPPG BGN Ahusen dan Mitranya

RT.COM, Makan Bergizi Gratis adalah Program pemerintah Indonesia, diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, yang resmi berjalan mulai Januari 2025 untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi gratis. Tujuan utamanya adalah meningkatkan gizi, menurunkan angka stunting, dan mendukung tumbuh kembang anak sekolah, anak usia dini, serta ibu hamil dan menyusui. Program ini juga dirancang untuk meningkatkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM, petani, dan nelayan dalam rantai suplai.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang jadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon. Program ini dijalankan dengan pengawasan ketat, terutama soal kebersihan, keamanan, dan kualitas makanan yang dibagikan ke siswa.

Penyaluran MBG dilakukan melalui Dapur Ahusen I dan Ahusen II dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Hal ini disampaikan oleh perwakilan mitra MBG, Prio Maharaja, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/2). Saat ini, MBG disalurkan ke 14 sekolah mitra tingkat SMP dan SMA di Kota Ambon.

Prio menjelaskan, sebelum makanan dibagikan ke sekolah, semuanya sudah melewati proses pengecekan berlapis.

“Setiap makanan yang sudah dimasak akan dicicipi dulu oleh chef, Kepala SPPG, dan ahli gizi sebelum dikemas. Semua SPPG juga sudah memenuhi standar dan punya tenaga yang kompeten,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahan baku yang digunakan dipastikan dalam kondisi bersih, aman, bebas hama, dan masih jauh dari tanggal kedaluwarsa. Hal ini dilakukan untuk mencegah risiko kerusakan sejak awal proses memasak.

Untuk pembagian tugas, operasional dapur dijalankan oleh pihak mitra, sementara pengawasan berada di bawah koordinasi Kepala SPPG. Seluruh proses kerja terus dipantau oleh SPPG hingga pemerintah.

Jika ada makanan yang dinilai kurang layak, pihak sekolah melalui PIC (Person in Charge) bisa langsung melapor ke SPPG dan mitra. Laporan tersebut akan segera ditindaklanjuti dan dibahas bersama pihak sekolah.
“Setiap laporan pasti kami respon cepat supaya masalahnya bisa langsung diselesaikan,” kata Prio.

Ia juga menegaskan bahwa semua sekolah mitra sudah memiliki MoU resmi dengan Kepala SPPG, dan pihak mitra berkomitmen penuh menjalankan tanggung jawab sesuai perjanjian.

Sementara itu, Kepala SPPG Dapur MBG Ahusen I, Riviandri A. Sitaniapessy, dan Kepala SPPG Dapur MBG Ahusen II, Rizaldi H. Tomu, menyampaikan bahwa MBG dijalankan dengan sistem pengawasan berlapis.

“Kami bekerja sesuai struktur dan SOP di tiap divisi. Pengawasan dilakukan mulai dari persiapan bahan, proses memasak, sampai makanan diterima di sekolah,” ujar mereka.

Setiap sekolah juga memiliki PIC yang bertugas mencicipi makanan sebelum dibagikan ke siswa. Jika ditemukan makanan yang kurang layak, PIC wajib segera melapor agar makanan tersebut tidak dikonsumsi.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa). Semua laporan akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.

MBG sendiri memiliki batas ketahanan makanan maksimal enam jam. Karena itu, proses memasak dibagi dalam dua shift, untuk sekolah pagi dan sekolah siang. Setiap menu yang dimasak juga diambil sampelnya sebagai bagian dari kontrol kualitas.

Selain menyediakan makanan bergizi untuk siswa, program MBG juga ikut menggerakkan perekonomian lokal. Program ini melibatkan UMKM, petani, peternak, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Kami sadar menjalankan program sebesar ini tidak mudah. Dengan sekitar 47 relawan di tiap dapur, pasti ada banyak penyesuaian dan proses belajar di lapangan. Tapi kami berkomitmen terus memperbaiki diri dan menjalankan program ini dengan sepenuh hati sebagai bentuk perhatian negara untuk generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas,” tutupnya. (*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *