REDAKSITIMOR.COM, Perhimpunan Adat Anak Negeri Jazirah Leihitu (DPP Hena Hetu) menyelenggarakan konferensi pers di Kantor Gubernur Maluku pada Jumat, 20 Juni 2025, untuk mengumumkan deklarasi resmi penyatuan organisasi.

Acara yang mengusung tema “Warisan Leluhur, Masa Depan Bersama: Jaga, Rawat, dan Majukan” ini dihadiri oleh Ketua Umum DPP Hena Hetu, Ir. M. Saleh Hurasan, Dr. Achmad Jais Ely, S.T., M.Si, dan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M.
Setelah lima tahun menghadapi perpecahan akibat dinamika politik yang memunculkan dualisme kepemimpinan, konferensi ini menjadi langkah penyelesaian resmi untuk menyatukan kembali organisasi. Kini, DPP Hena Hetu hanya memiliki satu struktur kepemimpinan yang sah, dipimpin oleh Ir. M. Saleh Hurasan sebagai Ketua Umum dan Brigjen Karel Albert Ralahalu sebagai UPU NUNU Hena Hetu, dengan para raja atau Upu se-Jazirah Leihitu sebagai Dewan Pertimbangan.
“Saya sangat bersyukur akhirnya kami bisa bersatu kembali. Saya juga menghargai pemahaman Pak Jais mengenai hal-hal normatif. Dengan penyatuan ini, saya yakin masa depan akan lebih baik,” ungkap Saleh.
Dengan kembalinya seluruh elemen Hena Hetu dalam satu wadah, diharapkan tidak ada lagi perpecahan yang dapat mengganggu keharmonisan masyarakat Jazirah Leihitu. Hena Hetu sebagai simbol kebangkitan negeri dan warisan leluhur kini harus dijaga dan dikembangkan demi masa depan generasi mendatang.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyambut positif penyatuan tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah DPP Hena Hetu. Saleh juga menyampaikan bahwa pihaknya siap bekerja sama dan mendukung program gubernur untuk lima tahun ke depan.
UPU NUNU Hena Hetu dalam pesannya menegaskan bahwa saat ini Jazirah telah bersatu, dan kini saatnya untuk bangkit serta bersinergi dengan pemerintah dalam mendorong pembangunan di wilayah Maluku, khususnya Jazirah Leihitu, yang selama ini masih tertinggal.
Sebagai tokoh politik yang turut membina proses perdamaian, Gubernur Maluku telah memainkan peran penting dalam menyatukan dua kubu yang sebelumnya terpecah, yang menurut Jais telah mencoreng citra Jazirah. Kini, perbedaan itu telah diselesaikan secara tuntas.
Menutup konferensi, Saleh menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Gubernur, atas perhatian dan dukungan dalam proses penyatuan ini. **(NN)






