REDAKSITIMOR.COM, Persatun Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Provinsi Maluku mengadakan acara syukuran di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku pada (Selasa, 20 Mei 2025), sebagai bagian dari puncak rangkaian peringatan Hari Waisak.
Acara ini menjadi momen untuk belajar dan mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya (parinibbana). Tema acara kali ini adalah “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia.”
Acara ini dihadiri juga oleh Wakil Gubernur Hi Abdullah Vanath, S.Sos, Sekda Maluku Ir. Sadlie, M.Si, Bhikkhu Sangha, Ketua Umum DPP Permabudhi, Forkopimda Maluku, Sekretaris Daerah Maluku, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku, Tokoh Agama, Staf Ahli Walikota Ambon, Pimpinan OPD Lingkup Pemerintah Provinsi Maluku, Ketua Permabudhi Maluku, Pimpinan DPD Lembaga Keagamaan Buddha Maluku serta Majelis Agama Buddha Maluku.
Pada kesempatan nya, Ketua Panitia Permabudhi, Aline Tjoa Tinnie Pinontoan, menyampaikan bahwa Permabudhi, yang berdiri sejak 2019 dan mengadakan Musyawarah Nasional pertamanya pada 2020, aktif dalam kegiatan sosial dan menjalin hubungan dengan berbagai tokoh lintas agama dan nasional, seperti dari PGI, PHDI, Matakin, dan tokoh-tokoh negara lainnya. Selama ini mereka telah mengadakan berbagai kegiatan sosial seperti peduli lingkungan dan membantu masyarakat.
“Seluruh kegiatan Perayaan Waisak pada hari ini kita akhiri di sini, sebagai perayaan penting bagi umat Buddha yang menunjukkan kepedulian dan bukti nyata semangat keberagaman dalam damai dan persatuan,” ujarnya.
Pinontoan juga menjelaskan bahwa perayaan ini menampilkan seni dan budaya lokal dari umat Buddha di berbagai daerah, yang menunjukkan kekayaan budaya dan memperkuat identitas kebangsaan.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Tri Suci Waisak kepada seluruh umat Buddha.
“Hari Raya Waisak merupakan momentum sakral yang memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini, pencapaian Penerangan Agung di Bodh Gaya, serta wafatnya di Kusinara. Ketiga peristiwa ini menjadi landasan umat Buddha dalam menghayati ajaran Dhamma sebagai panduan hidup,” ujar Kakanwil.
H. Yamin juga menambahkan bahwa ajaran Buddha mengandung pesan universal tentang kasih sayang, kedamaian, dan keseimbangan hidup. Tema nasional Waisak tahun ini, “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia”, dinilai sangat relevan dengan kondisi bangsa dan dunia saat ini.
“Dengan berkumpul dalam peringatan Sannipata Waisak ini, kita berharap terjalin pemahaman dan kesepakatan bersama untuk memperkuat kerukunan dan kedamaian. Nilai-nilai kebajikan seperti cinta kasih, pengendalian diri, dan hidup bermoral harus terus kita tumbuhkan,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Umum Permabudhi Indonesia, Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, pada sambutannya juga mengatakan bahwa Waisak bukan hanya perayaan agama, tapi juga kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian antarsesama dan terhadap alam.
“Selama bulan ini, kita diajak mempererat hubungan dengan orang lain dan alam, serta menerapkan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari,” kata Philip.
Kemudian juga, Wakil Gubernur Maluku pada kesempatan itu menegaskan bahwa membangun Maluku itu tidak bisa seorang diri, dibutuhkan pikiran dan tenaga banyak orang, tidak saja dari unsur Pemerintah tetapi juga dari pemuka agama, yang merupakan hal yang penting, oleh karena itu dengan semua agama pihaknya selalu menyiapkan waktu untuk hadir, memberikan support dan mendukung setiap kegiatan.
Kemeriahan syukuran sangat terasa dengan penampilan memukau tarian tradisional dari anak-anak binaan Permabudhi Maluku, yang berasal dari Suku Pedalaman Pulau Seram Bagian Timur. Lewat gerak dan irama, mereka mempersembahkan kekayaan budaya lokal yang penuh makna, dalam indahnya kebhinnekaan. Perayaan Waisak tahun ini menjadi pengingat yang mendalam akan pentingnya menapaki hidup dalam kedamaian, kepedulian, dan keharmonisan. Baik dengan sesama maupun dengan alam semesta. **(NN)






