Tradisi yang Menyatukan, Imlek Jadi Simbol Toleransi di Maluku

RT.COM, Suasana hening namun sarat makna menyelimuti kompleks Vihara Dharma Agung Poka, Kota Ambon, Selasa (17/2/2026). Aroma hio yang perlahan membumbung berpadu dengan lantunan doa, menghadirkan atmosfer reflektif menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Di tempat yang menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan umat Buddha di Ambon itu, semangat kebersamaan terasa melampaui sekadar seremoni budaya.

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Ria Anis Purwaningrum, menegaskan bahwa Imlek memiliki makna universal yang menembus batas agama. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa Imlek pada hakikatnya merupakan tradisi budaya yang diwariskan komunitas Tionghoa dari generasi ke generasi.

Menurut Ria, pemahaman tersebut penting agar masyarakat melihat Imlek sebagai perayaan kebudayaan yang inklusif. Ia menuturkan bahwa umat Buddha yang berasal dari komunitas Tionghoa memang kerap merayakannya di vihara karena faktor historis dan demografis. Namun demikian, esensi perayaan tidak pernah dibatasi oleh identitas keagamaan tertentu.

“Imlek membawa pesan tentang pembaruan, harapan, dan keseimbangan hidup. Nilai-nilai itu bersifat universal dan bisa dirasakan oleh siapa saja,” ujarnya.

Di Ambon, tradisi Imlek bahkan berkembang menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Ria mengungkapkan bahwa sejumlah rumah ibadah non-Buddha turut merayakan momentum tersebut sebagai bagian dari penghormatan terhadap budaya Tionghoa. Salah satu contohnya adalah Gereja Maranatha, yang dalam beberapa kesempatan ikut memaknai Imlek sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.

Fenomena ini, menurutnya, mencerminkan wajah masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Keberagaman tidak dilihat sebagai batas, melainkan sebagai ruang untuk saling menghormati dan memperkuat solidaritas sosial.

Lebih jauh, Ria menekankan bahwa pesan utama Imlek adalah harmoni—baik dalam hubungan manusia dengan sesama maupun dengan alam. Ia menilai bahwa refleksi tersebut sejalan dengan program ekoteologi yang tengah digalakkan pemerintah, yakni pendekatan spiritual yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia.

“Imlek mengingatkan kita bahwa keseimbangan hidup tidak hanya tercermin dari hubungan sosial, tetapi juga dari cara manusia memperlakukan alam. Keharmonisan itu harus dirawat secara bersama,” jelasnya.

Bagi masyarakat yang hadir di vihara, perayaan ini bukan hanya momen ritual, tetapi juga ruang untuk mempererat hubungan sosial. Warga yang datang tampak saling menyapa, berbagi harapan, dan memanjatkan doa bagi kedamaian bersama. Nuansa kekeluargaan terasa kuat, seolah menegaskan bahwa Imlek menjadi titik temu berbagai latar belakang budaya dan keyakinan.

Perayaan Imlek di Vihara Dharma Agung Poka pada akhirnya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan cerminan hidupnya nilai toleransi di Maluku. Tradisi ini menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: kebersamaan adalah fondasi utama dalam merawat keberagaman.

Dengan semangat itu, Imlek di Ambon terus menjadi pengingat bahwa harmoni bukan hanya cita-cita, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari kesadaran untuk saling menghargai.**(NN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *